Awal mula
Aku seorang pekerja swasta, baru 5 tahun bekerja di swasta. Aku pernah bekerja di humas dan protokol sebuah universitas. Juga pernah bekerja di perusahaan tambang. Terakhir aku bekerja di industri perhotelan. Puncaknya sekarang bekerja sebagai HRD Manager di pusat MICE terbaik di Kalimantan Utara. Gajiku cukup besar. Kadang 2 digit saat service besar. Kantorku nyaman. Teman-teman kerjaku baik semua saling support. Aku sudah menguasai pekerjaanku. Gajiku besar. Entah kenapa aku selalu questioning myself ketika sudah melalukan pencapaian di kantor, sepertinya aku yang berada di tempat yang salah. Apalagi kalau sudah briefing bahas mengenai anything about profit. Departemenku tidak berurusan langsung dengan pengejaran target perusahaan untuk menghasilkan keuntungan. Jadi aku fokus ke operasional saja. Tapi pasti kita selalu bahas bersama. Puncaknya ketika setiap pagi briefing jam 9, I have ideas in my head, but I dont feel like myself so I remind silent. That's when I feel like I don't belong there. I takes more than two years to actually figuring out that I don't really care about this big salary. That I refuse money. That I realize I am not a money oriented person but I love to work with people. Merasa lelah dengan semua drama coorporate yang mengejar keuntungan. Entah kenapa hati ini tergerak untuk daftar CPNS . Kalau aku ingin mengejar uang, tidak mungkin aku tinggalkan pekerjaanku yang sekarang. Bahkan ketika memutuskan meninggalkan pekerjaanku yang sekarang aku tidak ada penyesalan sama sekali.😅 Hanya saat mencari ketetapan hati untuk menjadi abdi negara aku butuh waktu research dan merenung why I choose this path. Long story short tekadku bulat untuk bekerja sebagai pelayan publik.
Belajar
Belajar harus diimbangi dengan berdoa membujuk Allah swt. Malu juga ketika menginginkan sesuatu baru merengek rengek kepadaNya. Walaupun capek pulang kerja aku paksakan diriku bangkit dan buka buku. Membayangkan masih banyak orang diluar sana. Aku yang setiap hari belajar di ruangan berAC, sambil online belajar zoom, sambil ngemil ciki-ciki dan yoghurt, sambil buka buku yang telah kubeli dengan kualitas terbaik, apa alasanku untuk tidak belajar? Dibandingkan orang lain yang mungkin tidak seberuntung aku. Mereka juga belajar keras di ruangan panas tanpa kipas angin, mungkin sambil mengurus tiga anaknya kecil-kecil, mungkin belajar setelah pulang kerja larut malam ketika anggota keluarga sudah tidur, mungkin belajar dengan kertas fotocopyan yang buram dan dijadikan satu sehingga menjadi buku, mungkin belajar dimalam hari menunggu paket kuota malam. Berharap nanti orangtuanya akan bangga menonton skor anaknya. Dengan semua fasilitas yang aku punya, tidak ada alasan untukku tidak maksimal. Disinilah aku tidak punya alasan bilang capek. Beruntungnya juga ketika aku mulai lelah belajar, ada orang-orang terdekat yang menyemangati dan mendoakan.
Ujian Pertama
Selama belajar untuk ujian SKD, belajar sejarah indonesia terutama karena aku lemah di TWK, aku merefleksi diri, pantas tidak orang sepertiku, yang punya pengetahuan seadanya tentang negara indonesia ini lolos cpns. Pantaskah orang yang baru menghapal beberapa bulan sepertiku bekerja untuk negara. Belajar hanya supaya lolos. Banyak sekali pertanyaan pantas atau tidak di kepalaku. Butuh waktu lamaa untuk menjawab pertanyaan2 filosofis seperti itu. We have to find our why. Tapi aku berusaha saja menikmati belajar TWK, Tes Wawasan Kebangsaan. Aku mencoba belajar dengan metode berkisah, dimana sejarah sejarah tersebut kubayangkan. Kubayangkan Indonesia ratusan tahun lalu, kubayangkan perang-perang dan penyiksaan yang terjadi. Kubayangkan gerakan pemuda pemudi jaman dahulu. Alhamdulillah, lumayan menjadi paham. Belajar sejarah jaman kita sekolah dengan belajar sejarah jaman sekarang ketika kita dewasa sungguh berbeda. Aku melihat dari sudut pandang yang berbeda dan memahami. Terimakasih ya Allah atas bantuan pemahaman ketika aku belajar.
Tes
Aku melihat di pengumuman online, bahwa aku akan ujian SKD tanggal 6 Oktober 2021. Lalu aku dapat informasi waktu nanti ujian SKD disitu juga kantorku akan melakukan audit CHSE, program dari Kementerian Pariwisata, aku masih HRD Manager saat ini dan menjadi leader dalam program audit itu. Ini tanggung jawab besar. Kenapa tabrakan semua sih Ya Allah. Ada 30 hari dalam sebulan, kenapa ujian dan audit susah terjadi di hari yang sama. Bolehkah saya ujian dulu.
6 Oktober 2021. Ini pertamakalinya aku ikut ujian SKD. Aku datang pagi pagi. Sudah ramai mas mas dan mba mba pakai baju hitam putih. Mungkin diantara mereka ada yang sudah berkali-kali ujian. Mungkin diantara mereka ada yang datang dari jauh sekali. Naik speed, naik perahu, melewati kebun sawit becek ke tempat ujian ini. Apalah aku anak baru yang mau ujian hari ini. Tapi aku datang dengan beberapa senjata yang sudah kuhapal. Semoga bisa mengerjakan dengan baik. Aku tidak berbicara waktu di ruang steril. Hanya merenung. Kenapa banyak sekali orang yang antusias dengan pekerjaan ini. Apakah ini sesuatu yang membanggakan. Aku tidak tahu. Yang jelas aku mau tau seberapa kemampuanku di tes cpns ini.
Masuk ruangan. Soalnya ada 100. Aku mulai mengerjakan soal soal yang menurutku mudah terlebih dahulu. Aku kerjakan TKP. Astaga. Kenapa susah dan membingungkan begini. Tes kepribadian yang menurutku tidak perlu belajar malah aku pusing mengerjakannya. Memilih jawaban yang terkesan sama semua pilihan jawabannya. Selanjutnya aku mengerjakan TIU. Tidak ada masalah mengerjakan matematika dan figural. Berjalan lancar saja karena aku cukup bisa mengerjakan soal matematika. Yang terakhir mengerjakan TWK. Materi paling susah menurutku karena sejarah indonesia. Duh. Ayo otak berpikir. Yang mana jawaban ini. Banyak jawaban yang kuganti-ganti di TWK. Aku pesimis lagi pantas kah aku yang gak bisa jawab TWK ini lolos maju kebabak selanjutnya ?
Waktupun habis, aku klik selesai dan hasilku keluar. Tapi syukur aku masih bisa maju SKB. Ini membuatku mendapat peringkat terakhir dari 6 orang yang akan ikut ujian kedua. Apakah aku bisa mengambil posisi minimal rank 2 agar jadi CPNS? Ah pesimis rasanya. Kita tidak bisa berlindung
dibalik kata “bukan rejeki” ketika tidak lolos dengan nilai pas pasan. Menurutku itu hanya boleh diucapkan oleh orang-orang yang sudah berusaha maksimal, skornya tinggi, lalu dibalap dengan selisih skor sedikit. Bukan oleh orang yang leyeh-leyeh.
Untuk kamu yang mau baca postingan lain lebih lanjut :
Simulation so that I can win and secure my place :
I need to study hard in order to pass the test and beat my competitior. I just need 5 points ahead to secure my position. I really hope I can make it this year. All of this CPNS process contains full of life reflection of how i should behave. I have a good feelings about this, insyaAllah.

