Oke. Nilaiku rendah di SKD. Aku butuh 1 hari untuk menerima kenyataan ini bahwa aku termasuk rank bawah, bahwa ada orang yang belajarnya lebih giat daripada aku untuk ujian SKD, bahwa usahaku harus lebih keras di ujian kedua. Bagus juga aku tidak rank pertama di SKD jadi aku tidak diatas angin dan terus belajar belajar belajar.
Belajar SKD lebih susah dibanding persiapan SKB. Itu menurutku tiap orang beda - beda. Bayangkan kita harus memanggil ulang materi jaman sekolah tentang wawasan kebangsaan, intelegensia umum, itu susah. Tambah lagi aku jatuh di TKP, Tes Karakteristik Pribadi. Aku meremehkan TKP. Jangan remehkan TKP. Itulah kekurnganku waktu ujian SKD.
Aku yang setiap hari belajar di ruangan berAC,sambil online belajar zoom, sambil ngemil ciki-ciki dan yoghurt, sambil buka buku yang telah kubeli dengan kualitas terbaik, apa alasanku untuk tidak belajar? Dibandingkan orang lain yang mungkin tidak seberuntung aku. Mereka juga belajar keras di ruangan panas tanpa kipas angin, mungkin sambil mengurus tiga anaknya kecil-kecil, mungkin belajar setelah pulang kerja larut malam ketika anggota keluarga sudah tidur, mungkin belajar dengan kertas fotocopyan yang buram dan dijadikan satu sehingga menjadi buku, mungkin belajar dimalam hari menunggu paket kuota malam. Berharap bulan depan orangtuanya akan bangga menonton skor anaknya. Dengan semua fasilitas yang aku punya, tidak ada alasan untukku tidak maksimal. Disinilah aku tidak punya alasan bilang capek.
Semakin aku belajar, semakin banyak yang baru aku ketahui setelah mendalami teori2 tersebut. Kemana aja aku selama ini. Membuat aku sadar dalam proses belajar, kita gak ada apa apanya di dunia ini. Proses belajar membuatku merefleksi kehidupan. What am I doing. Why. Why everyone one to get the position dan banyak pertanyaan filosofis lainnya. Aku ingin mengetahui seberapa kemampuanku di ujian ini. Bagi aku yang jurusan ilmu komunikasi, apakah yang selama ini di kampus kupelajari sudah kuterapkan. Apakah aku hanya hadir datang di kelas dan isi absen. Apakah aku pantas disebut lulusan sarjana ilmu komunikasi.
Lagi lagi semua tentang memantaskan diri. Aku akan berusaha belajar. Sampailah aku pada tahap nikmatnya belajar, aku belajar ikhlas. Tidak merasa terpaksa lagi. Aku otomatis bangkit belajar setelah solat isya. Aku selalu berdoa "jika nanti aku lolos maka semoga daerah yang mendapatku akan bangga memilikiku. Jikapun nanti aku tidak lolos maka tidak apa apa, aku cukup bangga mempelajari ini semua pasti berguna suatu hari nanti. Terimakasih ya Allah sudah memberikanku kenikmatan belajar. Gakpapa jika engkau menghendaki aku tidak lolos." Aku sudah siap menang atau kalah.
Hari H. 2 Desember 2021. Sangat enjoying the process sampai2 pas ujian SKB aku sangat santai sekali mengerjakan. Ak keluar ruangan pertama. Bangkit dari kursiku. Kuliat tatapan pengawas, mereka kira aku ingin ke toilet. Betapa kagetnya mereka waktu aku bilang sudah selesai. Aku sudah selesai mengerjakan dan aku tidak tahan berada di ruangan ini, lagi pula aku tidak ada niat mengganti jawaban. Aku yakin semua jawaban itu sudah pas. Apakah aku yakin lolos. Tidak. Aku hanya meyakini bahwa ini sudah yang terbaik yang bisa kulakukan. Selebihnya adalah kehendaknya. Aku keluar ruangan. Mengambil handphone. Sudah penuh notifikasi dari orang terdekat. Mengucapkan selamat karena mereka nonton live skor dengan tegang. "Selamat atas pekerjaan barunya put." Selamat. Selamat. Selamat. Entah kenapa aku gemetar.
Alhamdulillah. Mungkin Allah swt lebih menginginkan aku bekerja di tempat yang baru ini. Yang selama ini tidak pernah kubayangkan akan bekerja di instansi pemerintah. Yang selama ini aku ogah ogahan kalau berurusan dengan pemerintah, akhirnya aku menjadi salah satunya. " Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu. " Here i am. Bersyukur. Karena jika bukan karenaNya. Aku tidak bisa membagi kisah ini. Apakah nanti aku akan berguna di tempat yang baru? Aku akan berusaha. Kita lihat nanti. Terimakasih.

