Awal tahun ini saya banyak berpikir, banyak membaca, banyak bertanya sama orang yang saya anggap punya banyak ilmu. Sejujurnya saya awam masalah agama. Pun saya lebih memilih membahas hal - hal lain (yang saya anggap lebih seru). Bukan berarti saya tidak bisa mengaji, tidak bisa sembahyang, tidak puasa. Hanya saja rasanya saya mengakui bahwa selama ini saya islam ikut-ikutan. Islam yang nyaman cukup menjalankan perintahnya, berbuat baik pada sesama, tidak melanggar norma dan etika, merayakan hari besar sekedarnya. Hingga pada suatu hari entah kenapa pikiran seperti ini terlintas. Bahwa saya tidak mau cukup jadi orang islam sekedarnya.
Percakapan dengan guru saya terkait postingan ini... :
"pernah gak kamu sholat itu gak berharap apa-apa? "
maksutnya pak?
"kamu selama ini sholat karna memang mau niat atau karna sekedar takut masuk neraka kalau tidak dikerjakan?
"....takut masuk neraka pak"
"Coba kamu anggap ibadahmu itu sebuah kebutuhan."
Hmmm saya pikir-pikir, ya benar, karena saya takut tidak dilindungi, tidak dapat rejeki, tidak diberkahi, maka saya sholat. Padahal sejatinya manusia tidak boleh menuntut tuhan. Ah pokoknya saya awam masalah seperti ini. Setelah percakapan itu, rasanya malu jika sholat karena ingin meminta sesuatu ujung ujungnya. Padahal Tuhan sudah tahu apa yang makhluknya butuhkan.
Kemudian saya coba merubah pola pikir. Sekarang ibadah terasa setiap harinya sebagai kebutuhan. Tidak berharap apa-apa. Sama seperti kalau lapar pasti saya cari makan. Kalau tidak makan rasanya sakit perut. Kalau tidak sholat rasanya pun juga ada yan sakit Semoga terbiasa. Karena sejujurnya, pemikiran seperti ini butuh bertahun tahun kajian, liqo', baca buku, berkumpul bersama orang-oran berilmu. Apalah daya orang awam seperti saya. Saat ini cuma punya niat. Semoga niat saya ini : "ikhlas diatur olehNya, ikhlas mengikuti perintahnya" semakin kuat. Karena sejujurnya suatu malam lalu saya merasakan ada bagian jiwa saya yang tersesat dan butuh lebih banyak curhat ke Tuhan daripada manusia.
No comments:
Post a Comment